Rabu, 14 Maret 2012

UKM Lebak Serap 45.000 Tenaga Kerja


BANTEN - Usaha kecil dan menengah di Kabupaten Lebak, Banten, mampu menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 45.000 orang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Wawan Ruswandi, Jumat, mengatakan, selama ini pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM) meningkat antara 4-5 persen per tahun.
Mereka para pelaku UKM di Kabupaten Lebak bergerak dibidang kerajinan tangan, alat rumah tangga, meubeler, bilik, batu fosil, dan anyam-anyaman.
Bahan baku tersebut, kata dia, begitu mudah diperoleh di wilayah itu, seperti bambu, melinjo, gula aren, pandan, dan singkong.
"Dengan industri ini tentu sangat membantu pemerintah daerah untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat," ujarnya.
Ia menyebutkan, saat ini jumlah tenaga kerja pada sektor kerajinan di 28 kecamatan tercatat 45.000 orang dan pendapatan mereka rata-rata Rp.30 ribu per hari.
Dari 45.000 orang tersebut, kata dia, mereka bekerja tersebar di 14.300 unit UKM. Mereka memproduksi perabotan rumah tangga, dinding bilik, meubeler, dan cendera mata.
Dijelaskan Wawan Ruswandi, bahan anyaman pandan membuat tikar dongdot atau tikar setengah jadi untuk dipasok ke Tasikmalaya, Jawa Barat.
"Perajin setiap tahun bisa memasok tikar setengah jadi ke Tasikmalaya sebanyak 10.000 kodi," katanya.
Pemerintah daerah, kata Wawan, terus mendorong masyarakat memanfaatkan potensi sumber daya alam (SDA) untuk dijadikan sumber penghasilan.
Selama ini, potensi bahan baku kerajinan, baik hasil pertanian maupun perkebunan, cukup melimpah.
Oleh karena itu, kata dia, hampir seluruh daerah Kabupaten Lebak terdapat kerajinan anyaman bambu dan tikar pandan.
"Saya kira dengan tumbuhnya perajin itu dipastikan dapat meningkatkan penghasilan ekonomi masyarakat," ujarnya.
Ia mengatakan bahwa pihaknya terus memberikan pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat agar bisa menciptakan unit usaha baru dengan memanfaatkan bahan baku bambu tersebut.
"Jika unit usaha itu tumbuh dipastikan dapat mengatasi pengangguran," katanya.
Kendati demikian, lanjut Wawan, pihaknya selama ini menemui kendala untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan masyarakat akibat berbagai faktor, antara lain budaya malas.
Selain itu juga rendahnya pendidikan masyarakat juga menjadikan fator kesulitan dalam pemasaran hasil produksi.
"Kami akan bekerja keras untuk membangun jiwa kewirausahaan mereka itu," katanya.
Sementara itu, Sadeli, seorang pengrajin tikar pandan di Kecamatan Cileles mengaku mempunyai tenaga kerja sebanyak 30 orang dengan pendapatan Rp.20-30 ribu per hari.
"Mereka setiap hari menganyam pandan untuk dipasok ke Tasikmalaya," katanya.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan komentar yang bermanfaat.